Ketika Guru Tidak Lagi Pantas Untuk di “Gugu” dan di “Tiru”

carto15Ketika bom atom menghancurkan Nagasaki dan Hiroshima, banyak korban  berjatuhan  tak terhingga. Tapi Sang Kaisar hanya mengkhawatirkan nasib guru. Masih adakah  guru yang tersisa ? Mungkin dalam benak Kaisar Jepang tersebut, bagaimana nasib  Jepang kalau tidak ada guru yang akan mengajari mereka, mendidik mereka dan  membawa mereka kedunia yang lebih beradab. Begitu besar attensi Sang Kaisar  terhadap guru. Sampai sekarangpun masyarakat Jepang tetap menghormati guru dan  menempatkan profesi guru dalam tempat dan porsi yang sangat layak. Lain padang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya. lain di Jepang lain pula di Indonesia. Meskipun Jepang pernah menjajah Indonesia tapi nampaknya semangat Jepang dalam hal ini tidak terindoktrinasi pada masyarakat Indonesia. Satu-satunya peninggalan Jepang yang paling TOP adalah masalah Jugun Ianfu. Saat ini guru di Indonesia tidak seperti guru-guru masa lalu, dimana siswa selalu patuh, taat dan menghormati guru mereka. Profesi gurupun bukan suatu profesi yang dibanggakan oleh sebagian masyarakat kita. Nasib sang Umar Bakri yang jauh dari kemilau harta membuat sebagian orang tua tidak rela bila anaknya memilih profesi ini, apalagi mencari menantu dari profesi yang agak teralienasi ini. Apa penyebab pergeseran norma ini ? Masyarakat yang semakin materialistis kah ? atau ada hal lain yang membuat profesi guru seolah kehilangan pamor ? Ternyata ada hal-hal miris yang dilakukan oleh para guru yang tidak lagi mencerminkan keteladanan, yang mungkin apabila hal tersebut dilakukan oleh profesi lain, hukuman sosial yang ditimpakan tidak terlalu berat.Seorang guru menyandang beban yang sangat berat, tapi penghargaan yang sangat minim. Beberapa waktu yang lalu saya sempat mengelus dada ketika dalam suatu forum resmi saya melihat beberapa oknum guru berebut menghabiskan buah-buahan dan snack yang disediakan panitia untuk tamu kehormatan disebuah acara resmi, forum ilmiah. Tanpa menyisakan sedikitpun dari hidangan yang bukan diperuntukkan buat mereka tersebut. Sebegitu miskinkah mereka sehingga tidak pernah makan hidangan seperti itu, atau kontrol hawa nafsu yang kurang, sehingga tidak bisa membedakan mana yang pantas atau tidak, atau keserakahan dan tidak bisa memanage rasa malu, sehingga bisa menempatkan diri dengan baik. wallahualam. Dalam hati saya terbersit suatu kata, apabila banyak guru yang seperti ini, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, maklum saja bila peringkat pendidikan di Indonesia semakin hari kian terpuruk. Apakah guru  yang seperti ini masih pantas untuk digugu dan ditiru ?

2 Komentar

Filed under informasi, pendidikan

2 responses to “Ketika Guru Tidak Lagi Pantas Untuk di “Gugu” dan di “Tiru”

  1. masedlolur

    jawabannya gampang
    ganti saja semua kata guru pada tulisan Anda dengan kata manusia
    kalau belum puas juga
    ganti dengan kata dosen, dengan kata tutor, dengan kata narasumber, atau pendidik begitu

    tapi awas, jangan pernah menggantinya dengan kata saya

    setuju?
    @ seandainya pergantian itu bisa menyelesaikan masalah, setuju sekali.

  2. shoshe

    ada nilai budaya yang tertanam di bawah sadar, pada cerita wayang, …
    guru yang paling menonjol dan sentral: bisma dan dorna, afiliasinya ke korawa sih…..
    hayo……….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s