Generasi Muda Indonesia, Generasi Televisi ?

pasir-padiInilah peringatan bagi para orang tua di mana pun berada, terutama yang mempunyai anak remaja. Pertama, anak-anak Indonesia usia SD dan SMP menonton televisi rata-rata 1.600 jam per tahun. Sedangkan, waktu belajar di sekolah rata-rata hanya 740 jam per tahun. Kedua, dari 400 judul sinetron yang ditayangkan di sejumlah stasiun televisi sepanjang tahun 2006-2007, berbagai adegan kekerasan dan seks sangat dominan.

Rinciannya adalah 41,05 persen menyangkut kekerasan psikologis berupa aksi mengancam, memaki, mengejek, melecehkan, memarahi, membentak, dan melotot. Lalu, 25,14 persen lagi menyangkut kekerasan fisik berupa mencubit, memukul, mengeroyok, meninju, dan menikam. Juga, kekerasan rasional, fungsional, hingga kekerasan relasional yang mengakibatkan rusaknya hubungan atau relasi.

Peringatan pertama datang dari Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA). Sedangkan, peringatan kedua berupa hasil penelitian yang dilakukan oleh 18 perguruan tinggi di Indonesia bekerja sama dengan YPMA. Berikutnya adalah peringatan dari Komisi Nasional Perlindungan Anak (KNPA). Menurut ketuanya, Seto Mulyadi, program di berbagai stasiun televisi kita 30 persen adalah iklan, 30 persen berupa sinetron, dan sisanya sajian lain yang kurang bermutu. Sedangkan, untuk acara-acara yang mengandung nilai pendidikan, hanya 1 persen.

Bagaimana respons kita terhadap acara-acara televisi seperti tertuang dalam fakta di atas? Para aktivis Koaliasi Nasional Hari Tanpa TV (KNHTT) menyerukan agar pada Hari Anak Nasional, yang jatuh pada tanggal 20 juli, kita mematikan televisi seharian. Lalu, benarkah sepanjang sehari semalam kemarin kita dan keluarga kita betul-betul tidak menonton televisi?

Tidak bisa dibayangkan, pada masa sekarang ini, kita dan keluarga tak menyalakan televisi dalam sehari semalam. Hal inilah yang juga diakui Ketua YPMA, Bobby Guntarto, bahwa tayangan televisi masih menjadi pilihan utama sebagai hiburan keluarga. Tak aneh bila kemudian tayangan televisi dikonsumsi oleh keluarga Indonesia setiap hari dalam waktu lama. Karena itu, ajakan para aktivis (KNHTT) harus kita pahami sebagai peringatan buat para orang tua, terutama mereka yang sedang mempunyai anak-anak remaja, bahwa menonton tayangan televisi harus selektif.

Pertanyaannya, bisakah kita dan keluarga dapat memilah dan memilih tayangan-tayangan televisi yang berkualitas? Pada kondisi sekarang, tampaknya sangat sulit. Sebagian besar para pengelola dan penyelenggara siaran televisi masih mengejar keuntungan yang besar. Keuntungan bisa didapat hanya bila acara yang ditayangkan mempunyai rating yang tinggi. Yakni, acara tersebut digemari banyak pemirsa. Rating yang tinggi inilah yang bisa mengundang banyak iklan.

Celakanya, program yang digemari masyarakat adalah tayangan sinetron dan acara lain yang kurang berkualitas alias tidak mengandung nilai pendidikan dan informasi. Lantaran digandrungi masyarakat, acara-acara tersebut kemudian ditayangkan pada jam-jam prime time. Yakni, waktu-waktu di mana kebanyakan para anggota keluarga sedang di rumah/istirahat.

Di sinilah perlunya dibuat aturan-aturan yang tegas buat para penyelenggara dan pengelola stasiun televisi. Tidak cukup mereka hanya mencantumkan batasan umur untuk program-program yang ditayangkan. Pemerintah, DPR, dan lembaga-lembaga terkait harus segera membuat undang-undang untuk melindungi masyarakat dari dampak buruk televisi. Para pengelola dan penyelenggara stasiun televisi tidak boleh hanya berorientasi pada keuntungan. Anda juga dituntut bertanggung jawab pada masyarakat.

Bila hal-hal tadi tidak segera dilakukan, kita khawatir anak-anak kita akan menjadi generasi televisi. Yakni, generasi yang lebih mengedepankan kekerasan, kaya dengan jalan pintas, dan generasi yang tidak peduli dengan nilai-nilai agama, termasuk hubungan seks di luar nikah.

Sumber: Republika Online

Tinggalkan komentar

Filed under informasi, pendidikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s