Ada Apa Denganmu Anak Muda?

07_0059Peristiwa ini berlangsung pada saat  saya ikut seminar dalam rangka memperingati  HARKITNAS di Islamic Centre Baturaja tahun lalu. Seminar yang berskala nasional dengan jumlah peserta yang melebihi kuota yang ditetapkan panitia, hingga mengurangi kenyamanan peserta . Temanya hebat,  Kebangkitan Sumsel Melalui Peningkatan Mutu SDM. Disini saya tidak membahas isi makalah nara sumber, tapi ada   peristiwa yang membuat saya gundah. Sebagai WNI tulen saya yakin kita semua hafal dan fasih menyanyikan lagu Indonesia Raya (terlepas dari kidmat atau tidaknya). Sebelum acara dimulai, peserta diminta berdiri untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dipimpin oleh salah satu panitia dengan penampilan modis dan gaul abis (istilah abg), mengambil suara “….Kita bela bersamaa….” Awalnya saya pikir telinga saya yang error, karena meskipun berada pada barisan kelima dari depan, suasana berisik dari ribuan peserta membuat pendengaran tidak jelas. Tapi karena yang pertama kurang keras, panitia mendekatkan standing microphon pada sang dirigent, dan ternyata, masih suara dan nada lagu Satu Nusa Satu Bangsa yang terdengar lebih keras dan jelas yang kali ini  terdengar oleh semua peserta. Bisa ditebak kelanjutannya, suara haa huu dimana-mana. Meskipun lagu dilanjutkan tapi jauh dari khidmat, peserta nampaknya lebih tertarik untuk mendiskusikan ‘kerikil’ ini daripada bernyanyi. Saya tercenung, panitia acara ini adalah mahasiswa/i dari PTN yang cukup terkenal, apakah kesalahan itu hanya semacam human error biasa, karena demam panggung? Atau memang kurangnya pengetahuan tentang lagu- lagu wajib/nasional tersingkirkan oleh lagu Ungu, Letto ,Vagetoz dll?  Saya sangat prihatin.  Jadi ingat alm.Sophan Sopian dalam suatu wawancara terakhirnya di RCTI,……..”dalam perjalanan kami, kami dihibur penyanyi didaerah yang disinggahi, mereka menyanyikan lagu kucing garong dengan hebat, tapi begitu diajak menyanyikan lagu Bendera Merah Putih tidak hafal”. Dan sepertinya fenomena ini sekarang hampir merata. Saat upacara bendera hari senin, barisan penyanyi juga menyanyi dengan nada masing-masing. Tidak lagi mengikuti pakem lagu sesuai dengan notasinya.  Semoga dengan kejadian ini, si mbak yang jadi dirigent bangkit berbenah diri, dan kita sebagai guru, merapikan barisan lagi, supaya generasi mendatang tidak lupa pada lagu kebangsaannya sendiri.

Tinggalkan komentar

Filed under cerita, informasi, pendidikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s